Jogja: Logawa Oh Logawa (1)

Friday, November 18, 2016

Memulai pagi, 4 November, dengan perasaan berdebar lantaran kereta Logawa berangkat kurang dari 15 menit lagi. Saya masih dengan sabar dan agak panik menunggu sahabat saya, Rona, datang dan mengantar saya ke stasiun. Sahabat saya yang satu ini memang terbiasa dengan waktu yang mepet-mepet, antara gemas dan salut. Sementara saya, sebaliknya, paling tidak suka terburu-buru.


akan ke Jogja

Beberapa saat kemudian sampailah kami di stasiun Jember. Berpapasan di halaman dengan petugas stasiun dan ia mengatakan, “Logawa, ya? Ayo cepetan, 3 menit lagi.”

Aduh, Tuhan, saya belum check in pula. Dengan tergesa-gesa rempong akhirnya dibantu petugas tiket juga untuk check in cepat-cepat. Tak kurang, saya masih harus berlari menuju gerbong 7. Fiuh...

Perjalanan baru dimulai...



Saya duduk sendiri dan belum ada penumpang lain di sebelah maupun di depan saya. Sejenak saya menghirup udara ber-AC dan melemaskan ketegangan keterburu-buran tadi. Menyadari bahwa sejak semalam saya belum makan dan pagi ini rencana membeli roti favorit sebelum berangkat, gagal.

Tak sanggup menahan lapar saya memutuskan membeli sarapan di kereta. Padahal sudah niat berhemat. Yah, daripada saya pusing lalu semaput. Setelah sarapan, saya malah jadi ngantuk. Ah, terlalu dini untuk merasa mengantuk sementara ini masih pagi, dan akan sampai di tujuan saya, Yogyakarta, magrib nanti.


Dua Bocah Laki-laki

Selama perjalanan dari Surabaya hingga Nganjuk, dua orang bocah laki-laki duduk di hadapan saya, sementara sang ibu di samping saya. Tidak ada hal yang menyebalkan, tidak pula terjadi obrolan yang berarti karena sang ibu berfokus dengan HP dan anak-anaknya. Tapi pada akhirnya, dua bocah ini bercanda tertawa sambil makan dan minum lalu tanpa sengaja memuntahkannya tepat mengenai celana saya. Hahaha...

Padahal mau menghemat baju, tapi apa boleh buat. Rasanya hangat-hangat lembab. Tak usah dibayangkan lah. Tapi kalau terlanjur, yah, itu urusan anda.



Sekisah tentang “sembarangan”

Saat kereta sampai Jombang, saya melihat sebuah kejadian yang sedikit menggelitik pikiran saya. Saat itu tempat duduk di seberang saya adalah satu kerluarga lengkap, kakak beradik dan pasangannya masing-masing, serta anak-anaknya. Kemudian masuklah seorang ibu dan suami serta anaknnya.

Si ibu yang baru datang tadi meminta tempat duduk yang ditempati salah satu keluarga yang duduk di seberang saya tadi. Dengan sedikit ketus si ibu meminta karena ternyata itu adalah tempat duduk sesuai dengan nomor tiketnya. Dalam pikiran saya, kenapa tidak menegur dengan baik-baik saja dulu, kenapa harus keras dan ketus begitu? Keluarga yang ditegur dengan tidak enak tadi malah menyuruh si ibu yang baru datang untuk duduk di kursi lain. Tentu saja si ibu agak marah dan berkata, “Saya maunya sesuai nomor kursi.”

Dalam hati saya kasihan pada keluarga yang kena tegurannya tadi. Tapi, ah, ya sudah lah.

Tak lama kemudian salah satu anggota keluarga yang pindah tempat duduk tadi, berpindah ke sebelah saya pas. Ia mengobrol dengan suaminya yang duduk di seberang kursi. Lalu ia bertanya ke saya, “Turun mana, Mbak?”

Bersikap seramah mungkin dan dengan senyum menoleh ke arahnya, saya jawab, “Turun di Lempuyangan, Mbak. Mbaknya sendiri turun mana?” Saya lanjutkan pula balik bertanya.

“Kebumen.” Jawabnya dengan tanpa melihat ke arah saya lanjut berpaling muka ke arah suaminya. Menurut saya, sih, itu bahasa tubuh yang kurang sopan.

Lantas saya teringat akan rasa kasihan saya terhadapnya tadi. Saya berkata dalam hati, “Memang pantas Anda diperlakukan seperti itu! Sikap Anda cukup sembarangan.”



Basa-basi Dimulai

Hingga Stasiun Nganjuk baru ada satu penumpang yang duduk di depan saya sementara sebelah saya masih tetap kosong. Saya ngobrol sedikit dengan gadis sebaya, penumpang di depan saya itu.

Dari Stasiun Madiun, seorang bapak dan putrinya yang sebaya dengan saya masuk mengisi tempat duduk tepat di sebelah saya. Sebenarnya saya sudah mengantuk, tapi apa boleh buat saya justru mengobrol ngalor-ngidul dengan bapak di sebelah saya ini. Sementara putrinya dan gadis di depan saya pun tertidur. Oh, Tuhan.

Eh, tapi basa-basi itu menurut saya bukan sekedar haha-hihi. Ini bisa jadi pembelajaran beramah-tamah dengan orang baru dan memudahkan kita beradaptasi. Tidak menutup kemungkinan kita justru akan diingat oleh orang yang kita kenal tanpa sengaja tadi.



Lempuyangan, Aku Sampai

Sampai di Stasiun Lempuyangan menjelang magrib. Pertama kalinya saya menginjakkan kaki di salah satu stasiun di Yogyakarta ini, sendirian pula, aduh. Ada perasaan deg-degan. Karena banyak tukang ojek yang berburu penumpang, jadi lah saya naik ojek tradisional ini dulu dengan menunjukkan peta lokasi penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya melalui aplikasi.

Sebenarnya ke manapun kita pergi tak perlu takut selama kita masih bisa berkomunikasi. Harusnya tak menjadi masalah, dong, dengan Indonesia yang penduduknya ramah ini. Justru bertanya pada warga setempat akan jadi sesuatu yang menyenangkan tanpa melulu mengandalkan gadget di hadapan kita.



Penginapan Rasa Kereta

Sesampai di penginapan, saya merasa lega. Duh, tak menyangka saya sampai di Jogja tanpa seorang teman. Saya memang memilih Dormitory Room di mana ini adalah kamar sharing dengan orang lain. Berisi 6 Bed, campur laki-laki dan perempuan.

Saya memilih mandi dan shalat di masjid dekat penginapan ini. Selain bebas, juga lebih tenang. Bayangkan saja, saya mendapat bed atas, dan di kamar terdapat 3 orang laki-laki satu di antaranya adalah bule, dan 1 perempuan bule yang tidur di bawah bed saya. AC terletak pas di atas saya. Yak, selamat menikmati.

sempat jalan-jalan di sekitar penginapan

Saya harus menahan dua hal saat sudah di kamar ini. Pertama, saya tak bisa membuka kerudung saya dengan bebas tentunya, apa nanti kata mereka? Kedua, seharian di kereta ternyata juga bikin perut kembung. Mampus lah saya harus menahan angin. Itu sungguh tak nyaman.

Ah iya, selama saya merebahkan diri di kasur, saya merasa masih duduk dalam kereta. Badan masih terasa bergoyang-goyang.


Yang saya harapkan saat itu adalah segera pagi, saya ingin pinjam kamar mandi masjid. Tapi begitu lah, saya tertidur pukul 9 malam dan terbangun pukul 11 malam, hingga pukul 1 pagi baru tertidur kembali.

You Might Also Like

0 comments

Silakan tinggalkan jejak di sini :)

The Blogger Babes

Blogger Babes are Sophisticated Bloggers Seeking Simple Solutions and Support

BP Network

Blogger Perempuan

Indonesian Female Bloggers

https://www.facebook.com/groups/1949767178581022/

Instagram

Subscribe