Menyusuri Jalan Malioboro Hingga Titik Nol KM

Wednesday, November 08, 2017

Nggak bosen ngomong soal Jogja terus? Lha gimana, wong memang selalu bikin kangen dengan suasananya. 

Waktu saya ke Jogja terakhir kali, saya sampai di penginapan saat magrib. Walaupun flu dan agak nyeri kepala menyerang, saya nekat jalan-jalan ke Malioboro bersama teman saya yang kebetulan juga sedang liburan ke Jogja. Ya, sudah, janjian ngopi di jalan Malioboro. 

Malioboro
Jalanan Malioboro saat malam hari ramai sekali dengan para wisatawan dan musik-musik. Musik-musik dangdut berpadu etnik yang dimainkan sekelompok pemuda dengan angklung dan calung, cukup banyak ditemui di sini. Lincah didengarnya. Tidak hanya itu, bahkan seniman jalanan yang menggunakan celo maupun biola juga ada, yang ini terasa klasik eropa. Yang lebih membuat saya merinding, beberapa musisi jalanan tunanetra juga saya temui (dan hebatnya lagi) saat adzan berkumandang, mereka langsung berhenti dari pekerjaannya dan langsung bergegas menunaikan ibadah. 

Ternyata musik-musik calung dan angklung itu tidak hanya ditemui di Malioboro, beberapa kelompok musik bisa ditemui di pemberhentian lampu lalu lintas. Wah, konsep yang cukup menarik, ya. Para pengendara motor setidaknya akan menikmati menunggu lampu merah berganti hijau tanpa rasa bosan. Hehe... 

Saya juga berkesempatan jalan-jalan di sini saat siang hari. Alhamdulillah sedang sepi-sepinya. coba malam, harapan mau dapat tempat duduk yang kosong saja ya kosong, harapan kosong. Mumpung sedang sepi, boleh dong ambil foto dulu di sini.

Jalan Malioboro siang hari


Pasar Beringharjo
Saya nggak sempat mampir pasar ini, karena memang lagi nggak ada yang mau dibeli alias penghematan. Saya hanya sempat melewati jalan pasar ini karena kendaraan motor teman saya diparkir dekat pasar. Hehe... Suatu saat sepertinya musti mampir.

Benteng Vredeburg
Saya pengen sekali sebenarnya berkunjung ke museum peninggalan Belanda ini. Alhamdulillah lokasinya tidak jauh dari pusat Malioboro, sembari jalan pun sampai. Tapi... Sayang sekali, saat saya berkunjung, tempat wisata ini sedang tutup. Ya, hari senin tutup. Jadi saya hanya mengabadikan gambar di depannya saja. Hahaha...

Sebuah kiriman dibagikan oleh Ajeng Veran (@ajengveran) pada


Titik Nol KM Jogja
Kilometer nol, maka dari titik inilah jauhnya lokasi-lokasi di suatu tempat diukur. Setelah berjalan melewati lokasi Meseum Benteng Vredeburg, di KM Nol ini ada beberapa hal yang ikonik seperti Kantor Pos Besar, Gedung BNI, gedung Agung, dan Menumen Serangan Oemoem 1 Maret. Setiap sudut Jogja rasanya ingin diabadikan, tapi justru saking menikmatinya perjalanan, tak banyak yang terekam dalam kamera, yang penting sudah ada dalam kepala. Bukan begitu?

nampak gedung BNI yang antik megah

You Might Also Like

3 comments

  1. Duh, daku selalu ingin ke Jogja. Tetapi rencana itu gagal dan gagal lagi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Didoain semoga segera ke sana mba Dian 😁

      Delete
    2. Aamiin.. aamiin... terima kasih ^^

      Delete

Silakan tinggalkan jejak di sini :)

BP Network

Blogger Perempuan

Indonesian Female Bloggers

https://www.facebook.com/groups/1949767178581022/

Subscribe