Friday, September 28, 2018

Mengenang Tawa dan Menantang Diri di Yogyakarta

Saya ini pemalu, saya ini penakut, saya ini benar-benar anak rumahan yang jarang pergi kemana-mana kalau nggak bersama keluarga atau diajak teman ramai-ramai rekreasi ke suatu tempat. Sebagai anak perempuan satu-satunya dan tunggal, mendapat ijin ke luar rumah bahkan ke luar kota adalah hal yang susah-susah gampang. Iya, susah karena orang tua pasti takut saya bakal kenapa-kenapa kalau bepergian sendirian. Dan gampang, karena kalau orang tua sudah percaya dengan kita, mudah kok dapatkan ijinnya.

Tetapi, itu dua tahun lalu...

Ketika saya benar-benar ingin pergi sejauh lebih dari 473 kilometer dari kediaman saya. Iya, jarak Jember ke Yogyakarta kurang lebih sejauh itu. Sesuatu yang baru buat saya, bepergian sendirian demi suatu hal. Mungkin kalau bukan karena hal ini, saya nggak akan bela-belain ke sana. Apa hal? Sebuah pertunjukan komedi. Ya, stand up comedy pertama yang dilaksanakan di Lereng Gunung Merapi, Stand Up Gunung tahun 2016.

Penampilan Mas Dodit Mulyanto di Stand Up Gunung 2016

Saat itu menyenangkan, deg-degan, antusias menjadi satu. Bagaimana tidak? Saya bisa melihat langsung orang-orang yang biasa muncul di televisi, layar lebar, dan layar youtube. Hehehe. Atau istilah umumnya: artis. Norak, ya? Namanya juga excited dan baru pertama kali melihat deretan artis sebanyak ini dan mereka berseliweran di hadapan saya. Apakah saya minta foto ke mereka semua? Nggak. Saya hanya minta ke beberapa yang benar-benar saya idolakan dan mereka juga notice saya dari media sosial karena saya sering sapa juga. Aduh, senangnya.

Rasa khawatir dan tertantang pun ada. Perjalanan dan ngapa-ngapain yang dihandle sendiri itu ternyata cukup melatih mental adaptasi. Seru karena tak perlu menyesuaikan ini itu dengan teman, hanya perlu menyesuaikannya dengan diri sendiri. Bebas.

Momen tersebut membuat saya ketagihan datang di acara yang sama di tahun berikutnya, Stand Up Gunung 2017 dengan komika (sebutan untuk stand up comedian) yang lebih banyak, panggung yang lebih meriah, penonton yang lebih ramai, dan acara yang lebih rapi dan bagus dari tahun sebelumnya. Sangat meriah.






Malam yang bahagia di standup gunung
foto via @standupgunung twitter


MENYIMPAN BEST MOMEN SEBAGAI KENANGAN
Biasanya nonton video stand up comedy di televisi dan youtube, nah saat itu berkesempatan langsung merekam penampilan komedi tunggal ini, tentunya hanya untuk konsumsi pribadi diperbolehkan merekam, tidak untuk diunggah ke internet. Dengan kapasitas penyimpanan smartphone saya yang terbatas, saya jadi khawatir juga kalau nanti akan penuh dan menghambat pengabadian moment setelahnya. Maklum, memori smartphone saya tidak segede milik Huawei Nova 3i, Smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB. Jadi, saat itu nggak bisa puas merekam-rekam video. Seandainya dulu storage smartphone saya sudah sebesar itu, mungkin saat ini saya bisa nyimak video stand up comedy rekaman sendiri dengan puas kalau saya lagi kangen suasana nonton dan camping kala itu.


Camping Stand Up Gunung di Lereng Merapi

MENGABADIKAN PERJALANAN YANG PENUH CERITA
Perjalanan di Yogyakarta nggak hanya sampai di Lereng Merapi saja, tetapi berlanjut eksplorasi Jogja juga. Terus selama perjalanan perlu diabadikan, nggak? Tentu saja. Karena saya nggak hanya terpacu pada tujuan, tetapi lebih ke proses dan perjalanannya itu sendiri. Kalau begitu artinya kita butuh kamera yang benar-benar mampu mengakomodasi moment biasa hingga luar biasa kita dengan baik. Tapi kan saya saat itu nggak punya kamera canggih baik itu mirrorless maupun DSLR yang bisa membuat foto nampak 'wow' dan menarik. Jadilah hanya menggunakan kamera smartphone seadanya tanpa bisa memberikan efek yang mengesankan dengan kejernihan tinggi dan efek bokeh seperti Huawei Nova 3i yang memiliki kelebihan Quad AI Camera, dua kamera depan dan dua kamera belakang.

dual camera AI via huawei.com


MENGATASI KEBOSANAN DALAM KERETA
Menempuh jarak jauh dari Jember ke Yogyakarta yang memakan waktu kurang lebih 10 jam perjalanan naik kereta tentu akan rawan bosan. Apalagi naik kereta ekonomi yang pasti ramai dan kalaupun lelah dan tertidur nggak akan bisa nyaman. Jadi, biasanya saya nggak akan tidur. Hal yang biasa saya lakukan adalah main game di dalam kereta. Nah, main game pun kalau smartphone kita nggak punya teknologi GPU Turbo yang mengoptimalkan kemampuan pemrosesan grafis, kadang game nggak berjalan mulus dan cepat. Kalau smartphone sudah panas karena game, kadang terjadi hang. Ujung-ujungnya akan makin bosan dan nggak menyenangkan perjalanannya.

for gaming via huawei.com


MENJADI LEBIH ELEGAN DAN TAMPIL OKE DENGAN MENCOBA SESUATU YANG BARU
Perjalanan itu mampu merubah pikiran kita, perkembangan mental kita, termasuk cara pikir kita tantang hal-hal baru. Saya selalu ingin menyambut hal-hal baru dengan antusias. Mengikuti perkembangan jaman yang baru tanpa meninggalkan budaya lama yang telah mengajari kita, seperti proses akulturasi budaya. Dalam teknologi pun, perkembangan selalu pesat. Begitu banyak hal baru yang hadir di depan mata. Sama halnya dengan disain cantik elegan Huawei Nova 3i yang memiliki tampilan fisik warna gradasi Irish Purple dan Hitam yang nampak kilau cemerlang. Sebuah inovasi yang out of the box dari kebanyakan pasaran smartphone masa kini.


Warna Irish Purple via nurulnoe.com


Warna Hitam via nurulnoe.com


Ah, kadangkala saya terkenang betul. Itu adalah keputusan jalan-jalan paling berani yang pernah saya lakukan pertama kali. Bahkan mungkin bagi orang lain ini hal yang begitu remeh. Dan tidak menyangka, dari keputusan itu lahir keputusan-keputusan lain yang membuat saya merasa teradiksi pada jalan-jalan sendirian yang nyatanya lebih menyenangkan dan full of experience.

5 November 2016 saat itu. Dengan fasilitas nonton stand up dan bermalam di tenda bersama peserta lain. Sejak awal saya tak ragu meskipun saya datang ke mari tanpa teman karena justru dari acara ini saya mendapat teman-teman baru yang sampai sekarang kami masih saling berkomunikasi jika ada acara serupa. Itulah salah satu rezeki yang akan kita dapat dari jalan-jalan, travelling, seperti halnya merantau.

Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai penghidupan baru
Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji,
serta meluaskan ilmu

(bagian dari bait syair-syair Imam Syafii 767-820 M dalam Rantau 1 Muara karya A. Fuadi)

Mendapat kawan baru


PERGI DENGAN HUAWEI NOVA 3I
Beberapa waktu lalu, ada kabar bahwa akan diadakan kembali acara komedi favorit saya itu di Yogyakarta pada akhir bulan November 2018 mendatang. Acara itu tak di lereng gunung lagi, tetapi di Hutan Pinus Mangunan. Wah, saya sudah membayangkan betapa seru dengan suasana baru dan pemandangan baru yang patut diabadikan di sana. Saya berharap bisa datang dan menyaksikan kembali, bertemu kembali dengan kawan-kawan yang dulu saya kenal di sana atau justru bertemu dengan kawan baru lagi. Juga memotret cerita lebih banyak lagi dalam genggaman digital.

Satu hal yang menarik dan akan mendukung harapan saya ini: Huawei Nova 3i mendukung lima pencahayaan kualitas studio yang salah satunya adalah pencahayaan panggung. Iya, nanti saat panggung acara komedi itu dimulai lagi, saya yakin akan mendapat hasil foto yang bagus dan memorable banget terutama kalau ingin selfie dengan komika-komika idola saya. Tampil percaya diri saat bertemu teman-teman baru karena disain cantiknya. Mendapat perjalanan yang menyenangkan tanpa takut bosan karena bisa main game dengan lancar karena powerful performance-nya, dan nggak perlu khawatir lagi perkara memori smartphone yang menipis. Ah, saya sudah tidak sabar menantang diri saya lagi untuk bepergian ke tempat baru.

"Bepergianlah" agar kita semakin merindukan rumah
di Stasiun Lempuyangan

Tak seperti dua tahun lalu saat itu, saya sekarang justru suka melakukan perjalanan sendiri. Saya sudah menjinakkan rasa takut.

Dari pengalaman perjalanan seperti ini saya belajar, "kemauan itu sedikit lebih di depan dari pada kemampuan." Jika kita mau, kita bisa terobos segala ketidakmungkinan. Toh, teknologi semakin maju, jika kita mau belajar dan memanfaatkannya dengan maksimal, hidup akan lebih mudah dan menyenangkan. Hampir semuanya tersedia dan terjangkau online. Apalagi dengan adanya smartphone Huawei Nova 3i kita tak perlu takut kehilangan momen menyenangkan yang bisa kita bidik dalam bentuk foto maupun video sebanyak-banyaknya.

Kenapa? Sebab rindu kadangkala muncul, dan mengobatinya perlu dengan menengok kenangan-kenangan itu dari gawai yang kita genggam.

Performancenya yang oke akan menunjang kebutuhan perjalanan mulai dari gerak cepat dalam memilih penginapan dadakan, order ojek online, mencari ATM terdekat atau menelusuri rute via google maps, dan penghilang kebosanan dengan mainkan games senyaman mungkin. Seorang pejalan pastilah paham dan membutuhkan itu.

Begitulah pengalaman saya yang akan saya kenang sampai saya tua nanti, pengalaman yang membuat saya keluar dari zona nyaman dan bahkan ketagihan. Ceritakan pada saya, adakah pengalamanmu yang paling terkenang sampai saat ini?

Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com

Monday, August 13, 2018

Review Penginapan Murah Dekat Stasiun Lempuyangan

Sebagai anak ala-ala backpacker yang menekan budget jalan-jalan, tentu musti selektif juga memilih penginapan terutama yang sesuai dengan budget dan yang pasti: murah! Hehe...

Untuk memilih penginapan murah juga musti mempertimbangkan kenyamanan, tak hanya sekedar murah. Kalau benar murah tapi nggak aman, nggak nyaman buat istirahat, yah nggak asyik juga jadinya.

Biasanya penginapan-penginapan dekat stasiun kereta akan jadi pilihan, karena bisa dijangkau dengan jalan kaki maupun ngojek tapi nggak mahal. Berikut ini review penginapan-penginapan yang dekat dengan Stasiun Lempuyangan Yogyakarta bila ada kawan sekalian yang butuh pertimbangan saat liburan ke Jogja dan turun via Stasiun Lempuyangan. Cekidot!

SKY HOTEL HAYAM WURUK
Penginapan ini sangat dekat dengan Stasiun Lempuyangan, jaraknya sekitar 350 meter, jalan kaki lima menit sampai. Selain fasilitas yang cukup lengkap dengan adanya Televisi, Kamar Mandi, Wifi, staff penginapan ini juga ramah.  Dan lagi juga banyak tempat-tempat makan murah meriah di sekitar. Pesan hotel ini cukup mudah, bisa via Traveloka untuk dapat harga yang bersahabat.

Namun untuk soal harga, ini sepertinya lebih pas untuk travelling bareng teman, jadi biaya bisa ditanggung bersama.

Room Sky Hotel via Traveloka

Alamat: Jl. Hayam Wuruk No.51, Tegal Panggung, Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55212
Telp: (0274) 544879
Harga: Mulai dari Rp210.000,- (via Traveloka) harga bisa berubah sewaktu-waktu.
Jarak dari St. Lempuyangan: sekitar 0,35 Km

HOTEL SAFARI
Ketemu hotel ini karena saya ketemu bapak-bapak yang menawari saya. Saat itu saya jalan cukup lama panas-panasan sendirian, habis dari acara stand up gunung pula di Lereng Merapi. Punggung sudah lumayan pegel bawa tas gede. Setelah saya telpon-telpon hotel yang saya search di internet, tak ada yang seharga di bawah dua ratus ribu. Maklum, penghematan sekali. Hehe... Dan ketemu lah bapak-bapak yang tidak meyakinkan, sembari ia senyum-senyum. Saya underestimate.

Bapak (B) : "Mau cari penginapan kah, Mbak?"

Saya (S) : "Hehe, iya, Pak."

B: "Ayo Mbak saya bantu." *tetapi sambil tersenyum-senyum aneh*

S: *ngikuti bapak tersebut sambil berdoa "aman... aman..."

Kemudian saya diajak ke sebuah rumah yang tak nampak seperti penginapan dari luarnya. Saya ikut masuk saja. Lalu si bapak tadi bicara sambil teriak ke pemilik, "Mi... Mami... Ini ada orang baru, Mi!"

S: *dalam hati* Waduh, apaan ini?

Saya jadi mikir aneh-aneh saat itu juga. Kalian paham lah maksud saya. Hehe. Tetapi saya ikuti dulu untuk menghargai bapak tadi. Ternyata benar itu penginapan. Huft... Hahaha. Tapi harganya nggak cocok. Jadi saya diajak ke tempat lain lagi oleh bapak tadi. Dan sampailah saya di Hotel Safari.

Setelah tanya-tanya harga dan kamarnya, saya memutuskan untuk istirahat di sini. Dan bapak yang menolong saya tadi pergi setelah senyum-senyum mengkode 'tips' untuknya. Suasana area penginapan begitu sejuk. Bapak penjaganya juga selalu siap sedia diminta pertolongan.

Hotel Safari - credit: Rahmat Rome via Google Maps

Alamat: Jl. Doktor Sutomo Blok DN3 No.968, Bausasran, Danurejan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55211
Telp: (0274) 544995
Harga: Mulai dari Rp100.000,- (harga dapat berubah sewaktu-waktu)
Jarak dari St. Lempuyangan: sekitar 0.9 Km


WISMA BU YANTI (COMFORT ROOM NEAR STASIUN LEMPUYANGAN)
Saya memesan penginapan ini via Traveloka. Awalnya saya kira di pinggir jalan besar, tetapi masih masuk-masuk gang. Tak apalah sudah terlanjur. Awal saya sampai depan penginapan ini, saya dikagetkan anjing yang menyalak milik Wisma Bu Yanti ini. Setelah saya masuk melewati pintu gerbang, nampak dua anak kecil perempuan yang cantik. Saya bertanya, "Dek, mamanya ada? Saya mau nginap di sini."

Lalu salah satu gadis tersebut menjawab, "Memang siapa mbak yang mau menginap?"

"Saya, Dek."

"Cowok apa cewek?" Ia bertanya kembali.

Lho, kok, pertanyaan macam apa ini, pikir saya. Tapi saya jawab saja, "Cewek, Dek."

Ia menanggapi, "Tapi kan ini kos-kosan cowok, Mbak."

*gubrak!

Waduh, apa benar ya. Kemudian bertemu lah saya dengan Bu Yanti tersebut. Memang benar ini juga termasuk kost cowok di dalamnya. Huft... Ya sudah lah, saya pikir saya salah masuk. Haha.

Ruangannya cukup kecil untuk kamar standar dengan kamar mandi sharing (di luar kamar). Tetapi untuk penginapan semurah ini, sudah bisa menikmati nonton TV dan ada kipas angin. Sangat cukup lah untuk sekedar beristirahat. Keamanan juga tak perlu khawatir.

Kamar standar Wisma Bu Yanti via Traveloka

Wisma Bu Yanti (1) via Traveloka

Alamat: Jl. Bausasran Blok DN3 No.993, Bausasran, Danurejan, Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta 55225
Telp: 08562934291
Harga: Mulai dari Rp120.000,- (via Traveloka - harga bisa berubah sewaktu-waktu)
Jarak dari St. Lempuyangan: sekitar 1.1 Km

--------

Yap, sekian review saya untuk penginapan-penginapan murah di dekat St. Lempuyangan Yogyakarta yang pernah saya singgahi. Tetap perhatikan keamanan dan kenyamanan dalam memilih penginapan terutama untuk backpacker cewek. Mahal sedikit nggak apa-apa yang penting worth it! Setuju? 

Thursday, August 09, 2018

3 Akun Instagram Tema Travelling Ini Bikin Iri

Teman-teman yang punya akun instagram pasti punya semacam akun idola (instagram crush)  yang menginspirasi. Mungkin kalian suka foto-fotonya yang bagus, captionnya yang penuh makna, atau memang ya suka saja. Coba sini bagi-bagi akun instagram crush kalian!

salah satu foto dari instagram saya.
hehe


Nah, saya akan bagikan beberapa akun instagram yang paling menarik versi traveran. Akun-akun ini sedikit banyak mempengaruhi saya. Hihi... Yap, kita mulai saja.


3. ANGGEY ANGGRAINI @herjourney
Satu hal yang sangat saya suka dari akun Anggey ini: foto-foto yang berwarna hangat, jernih, tapi soft dengan feed yang rapi dan warna senada. Yap, begitu lah saya menggambarkannya. Kadang, walau postingan kerja sama atau tentang suatu produk pun, akun ini begitu apik menempatkan produk tersebut dalam foto sehingga tak mengganggu karakter feednya. Video-video soal travelling pun digarap dengan bagus.

"by doing what she loves for a living, she brings new meaning to the art of freedom" @her_journeys



Selain akun youtube yang tersemat di profil instagramnya, ia juga memiliki blog perjalanan di herjourneys.com.

2. SABINA TROJANOVA @girlvsglobe
Pertama kali tahu soal akun ini karena saya pernah search di google tentang lifestyle blog itu seperti apa. Saya dulu pernah bingung menentukan tema blog yang cocok untuk saya kembangkan, apakah tentang buku-buku atau momen (di ajengveran.com) atau tentang jalan-jalan, apakah harus terpisah atau jadi satu menjadi lifestyle blog, yang akhirnya saya pisah karena saya ingin lebih rapi dan terkhusus.

Setelah terinspirasi dari blognya, saya mencoba mencari akun instagramnya. Dan, ketemu! Saya sempatkan menyapa dan terima kasih atas inspirasi di blognya dan ia sempat membalasnya, walau followernya sudah cukup banyak.

Yang saya suka dari foto-foto di akun ini: full colour dan cerah. Walau terkesan banyak pernik warna, tapi ia punya main colour yang mendasari feednya.



Notting Hill might just be the most picture perfect neighbourhood in London πŸ‡¬πŸ‡§ I mean, look at this flower shop - and that’s only the beginning 🌸🌿 To put together a list of the most Instagrammable places in the area I enlisted the help of my friend Jess from @loveandlondon. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Together we decided to spill the beans and show you all our favourite photo spots in a short vlog! The link is in my Stories, but don’t forget to subscribe to my YouTube channel so you never miss these videos 😁 ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ TELL ME: What is, in your opinion, the most Instagrammable place in the world? πŸ’ƒ ••• πŸ“· @loveandlondon
Sebuah kiriman dibagikan oleh Sabina Trojanova 🌍 (@girlvsglobe) pada


1. ALEXANDER THIAN @amrazing
Apa yang nggak keren dari orang ini? Dengan sapaan akrab Koh Lexy, ia di gemari di banyak kanal. Isi twitternya oke, blognya di amrazing.com pun isinya sangat menarik dengan cerita-cerita beragam dari perjalanan hingga zodiak yang banyak difavoritkan polowers, bahkan instagramnya worth it banget buat diikuti. Walaupun kadang terkesan songong, tapi saya suka gayanya yang ini. Bikin orang jera.

Nggak hanya foto-foto instagramnya yang penuh cerita yang layak disimak, bermakna, menghibur, yang selalu diawali dengan #LetMeTellYouAStory, tetapi ia juga sering sharing segala macam di instagram storiesnya. Dan nggak tahu kenapa selalu menarik kalau Koh Lexy yang menyampaikan. Hehe. By the way, ia juga sering sharing soal photography, loh! Hmm... Kekomplitan yang bener-bener howow.

Saya juga belajar menyematkan caption yang related dengan foto dari Kokoh ini. Apalagi saya orangnya tipikal suka bercerita juga. Berikut salah satu foto di instagramnya.


Lagi sekrol galeri kamera terus nemu foto selfie ini dan ketawa sendiri. Liat dua orang di belakang itu gak? Nah, ceritanya aku kepengin minta difotoin di #arashiyamabambooforest ini kan ya, mumpung sepi gak ada orang. . Aku: hi, would you please take my photo? Si cowok dan si cewek liat-liatan. Ternyata mereka nggak ngerti bahasa Inggris. Aku lalu nunjuk ke arah kamera dan bikin gerakan seolah-oleh lagi motret. . Si cowok ketawa dan ngomong ke si cewek pake bahasa jepang yekali pake bahasa russia plis deh. Si cewek cekikikan lalu berjalan ke tengah, dan pose. . Lalu aku bengong. . Lho mbake. Ngapain yey di situ? YANG MAU MINTA FOTO ITU AKU WOY SAPOSE YANG MAW FOTOIN YEY???? . Tak urung, aku cekrak-cekrek juga motretin doi. Abis itu arigato-arigatoan dan mereka berjalan lagi. Daripada manyun, akhirnya aku selfie sendiri. . Begitulah cerita tengah malam ini dari aku yang juga bingung kenapa posting foto tengah malam begini :( #aMrazingJapan #LetMeTellYouAStory
Sebuah kiriman dibagikan oleh Alexander Thian (@amrazing) pada

Sungguh banyak sebenarnya akun-akun travelling yang bikin mupeng dan menggoda mata dan hati buat turut pergi ke destinasi-destinasi mereka. Namun inilah tiga akun paling atas pilihan saya bertema personal travel blog yang bikin iri alias menginspirasi.

Kalau teman-teman, yang paling menginspirasi dalam dunia instagram/blog, siapa dan alasannya kenapa? Ceritakan padaku!

Wednesday, July 25, 2018

Liburan Memburu Senja di Keraton Ratu Boko

Yang pernah nonton film Ada Apa dengan Cinta? 2 mungkin masih ingat dialog antara Rangga dan Cinta tentang travelling dan liburan.

Cinta (C) : "Gila ya, kamu. Kok nekat gitu, sih?"

Rangga (R) : "Itu bedanya orang yang sedang travelling sama yang sedang liburan."

C : "Apa bedanya?"

R : "Kalau orang yang sedang liburan, kebanyakan biasanya mereka bikin jadwal yang pasti, pergi dan tinggalnya di tempat yang nyaman. Terus ke tempat-tempat yang bagus buat foto-foto."

C : "Ya, iyalah. Namanya juga liburan."

R : "Kalau suka travelling, kita harus lebih spontan, lebih berani ngambil resiko, siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan. Yang harus dinikmati itu justru proses perjalanannya, dan kejutan-kejutan yang mungkin muncul."

C: "Yang penting itu 'the journey, not the destination'. Gitu, kan?"


---

Setuju, nggak, dengan apa yang dikatakan Rangga? Aku sih iyes! Ya, travelling itu penuh kejutan yang nggak diduga, bahkan proses perjalanan kita pun adalah bagian terpenting dari cerita travelling itu sendiri. Kadang terasa menakutkan, tetapi kita bisa menjadi adiksi pada hal tersebut. Terasa berpetualang, apalagi kalau jalan-jalan sendirian. Kita seakan dilatih berpikir cepat dan solutif, misalnya kita sampai di suatu tempat namun belum tahu nanti bermalam di mana, lalu mencoba searching di internet tentang rekomendasi penginapan, tetapi hape kita habis baterei, lantas langkah kita selanjutnya apa, dst.

Nah, ngomong-ngomong soal Rangga dan Cinta tadi, salah satu tempat wisata yang mereka kunjungi saat di film tersebut adalah Keraton Ratu Boko. Pemandangan yang terlihat sinematik sekali dalam film, adegan setelah hujan gerimis, dengan bagian-bagian candi yang nampak hitam dan rerumputan yang menguning kecoklatan serta dahan dan ranting pohon yang meranggas kering.


Gapura Keraton Ratu Boko

Komplek candi Ratu Boko ini katanya bagus untuk berburu sunset menikmati senja. Terbayang kan bagaimana indahnya peninggalan bangunan antik tersebut berpadu dengan hangatnya sinar matahari yang memancar kuning kemerahan dari arah barat kemudian menembus gapura-gapura candi. Hwaaa...

Bersama rombongan tiba lah di lokasi Keraton Ratu Boko sekitar pukul tiga sore. Kami harus naik puluhan anak tangga dulu karena bus di parkir di bawah. Cukup menghauskan karena nggak bawa air minum sembari berjalan dengan kondisi sedikit berkeringat. Namun pemandangan di sekitar bukit menaikkan lagi semangat kami sebab nampak Candi Prambanan di kejauhan sana. Cantik dan megah.

Untuk tiket masuk wisata ini, teman-teman bisa cek di sini. Tiket masuk tersebut terbedakan tak hanya untuk dewasa dan anak, tetapi juga berdasarkan jamnya (ada harga khusus untuk melihat sunset, lho!).

Setelah masuk pintu tiket, kita menemui peta taman wisata yang terpampang besar dan informasi wawasan untuk pengunjung. Peta taman wisata ini berisi apa saja yang ada dalam komplek Situs Ratu Boko yang di antaranya: tempat parkir, toko cinderamata, restoran, kantor unit, area kemah, pusat informasi, gapura, candi pembakaran, hingga bagian-bagian candi dan situs di dalamnya. Situs Ratu Boko ini merupakan peninggalan sejarah yang bercorak Hinduisme sekaligus Budhisme. Peninggalan ini dibangun pada abad VII-IX M. 




Setelah memasuki area situs, kami (saya beserta rombongan) menikmati suasana sore yang segar di bawah pepohonan beralas rumput, tepat di samping Gapura. Beberapa jenak kemudian saya melipir ke arah selatan melihat-lihat area Paseban. Saat menikmati sesuatu yang tak biasa begini, biasanya pikiran saya melayang entah kemana seakan menembus lorong waktu dan mengira-ngira apa yang dulu pernah terjadi di tempat ini.

paseban

Usai dari area Paseban, kembali ke teman-teman yang masih duduk-duduk di rerumputan sembari mencoba mengambil foto-foto berlatar Gapura Ratu Boko. Berlanjut memasuki Gapura, melewati catwalk lurus bagaikan menuju singgasana, aih, sungguh ini luar biasa bagus.

Terus, bagaimana soal sunset indah di mari? Sayang karena keadaan langit juga agak mendung namun syukur tak turun hujan, saya belum bisa merasakan bagaimana suasana jingga cemerlang tersebut. Tak apa, cuaca memang tak bisa diprediksi, seperti hati manusia yang bisa kapan saja berubah.


A post shared by Ajeng Veran (@ajengveran) on

Berlanjut menikmati luasnya alun-alun dengan rumput hijau luas dan rasanya ingin bergulung-gulung saja di tengahnya. Hihi. Sungguh sayang jika tak mengabadikan foto di kawasan ini.

alun-alun



Di bagian utara ada Candi Pembakaran, tetapi saya hanya sebentar dan tak melihat-lihat dengan detil. Sementara rombongan sudah akan pulang. Yah, beginilah kalau terlalu asyik bermain bareng dengan yang lain, lupa untuk mengexplore lebih banyak mengenai tempat yang kita kunjungi. Pun juga tak sempat mengexplore area Gua dan Gardu Pandang, entah kenapa kok dari jauh terasa agak seram ya areanya, karena berada di ujung.

Dan bodohnya, setelah pulang dan melihat kembali peta, baru menyadari masih ada yang lain yang belum disambangi yaitu Keputren dan Pendopo. Mungkin ini bisa jadi pelajaran kalau jalan-jalan lagi, musti lihat sedalam-dalamnya apa saja di tempat tersebut sehingga tak lagi luput. Tapi, apapun yang sudah terjadi, hendaknya tetap disyukuri, bukan? Karena bisa sampai di tempat ini juga.

Nih, sebuah posting foto dari seorang perempuan yang mencoba berakting seperti tokoh Tina di vidio klip film Kuch Kuch Hota Hai. Hehehe


A post shared by Ajeng Veran (@ajengveran) on



Perihal bayangan sunset yang luar biasa itu tak dapat terpotret. Ya, sayangnya memang hanya bayangan, dan saya tidak benar-benar mengalaminya. Saya tentu jadi penasaran pada akhirnya. Teman-teman sekalian sudah pernah menikmati sunset di Keraton Ratu Boko, belum? Indah kah?

Saturday, July 07, 2018

Nikmatnya Ikan Bakar 'Capit' Bumbu Merah Blimbingsari

Dengan mengesampingkan artikel-artikel yang berisi informasi atau kevalid-an seputar ikan bakar Blimbingsari di internet, saya ingin menulis sesuai dengan apa yang saya rasakan sendiri soal ikan bakar yang satu ini.

Ikan Bakar capit Blimbingsari

Kalau Anda sedang di Banyuwangi atau mampir ke wisata Pantai Blimbingsari, Anda akan menemui deretan warung ikan bakar yang letaknya di sekitar pantai. Tentu saja akan menjadi suasana makan yang menyenangkan dan sejuk karena berdekatan dengan pantai sembari mendengar gemuruh ombak dan angin semilir. Es kelapa muda (degan) utuh juga akan banyak ditemui di sekitar pantai Blimbingsari, kurang romantis apa, coba? Minum santai di pinggir pantai.

Tetapi yang ini beda. Ikan bakar di gambar atas itu belinya di pinggir jalan yang lumayan jauh dari pantai, saya juga tidak mengamati nama warung ini, bahkan letaknya tepat di titik mana saya abai, tetapi masih berada di jalan pantai Blimbingsari, di rumah penduduk sekitaran bandara Blimbingsari. Sekilas tempatnya tidak meyakinkan. Hanya warung biasa yang ada di depan sebuah rumah. Bersama sahabat, mampirlah untuk membeli namun dibungkus untuk oleh-oleh pulang. Saya pesan dibungkus terpisah antara ikan dan bumbunya, supaya lebih tahan lama.

Ikan bakar ini dibakar dengan capit yang terbuat dari bambu dan ujungnya dipasang pelepah pisang untuk mempererat jepitan bambu tersebut. Ikan-ikan ini diletakkan di sebuah etalase kecil di pinggir jalan untuk menarik pembeli. Sungguh, awalnya memang tidak meyakinkan.

Sesampai di rumah pun, ikan bakar ini masih 'menginap' di kulkas selama 4 hari karena banyak makanan di rumah dan belum sempat tersentuh. Saya tidak terlalu penasaran bagaimana rasanya. Pikir saya yah seperti ikan pindang biasa mungkin. Setelah benar-benar tidak ada lauk di rumah, saya ambil dari kulkas dan memanaskannya ulang termasuk bumbunya.

Setelah saya nikmati bersama nasi, rasanya benar-benar diingat dengan baik oleh lidah saya. Mungkin jika diibaratkan dengan kenangan, ikan ini adalah kenangan yang indah dan berkesan. Rasa bumbunya tersebut asam pedas sedikit manis, tapi pas. Tahan lama sepertinya bumbu ini. Dan ikan bakarnya empuk, tidak terlalu kering walaupun sudah saya bakar ulang. Tidak perlu lauk yang lain jika ingin benar-benar merasakan kekhasan paduan ikan bakar dan bumbu merahnya ini.

Harga untuk satu ikannya Rp11.000 sudah termasuk bumbu merah. Rekom sekali untuk teman-teman yang barangkali nanti berkesempatan ke Blimbingsari maupun pantainya. Jika harus memberi bintang, 4,5 dari 5 bintang. Kok tidak memberi bintang 5? Yah, saya belum tahu kesempurnaan itu seperti apa bentuk dan rasanya. Hehe..

Berminat mencobanya suatu saat nanti?

Monday, June 04, 2018

Lava Tour: Wisata Jejak Erupsi Merapi

Beberapa waktu lalu, 11 Mei 2018, jagat media (sosial) diramaikan letusan merapi. Tapi syukurlah tak sebesar beberapa tahun silam (tahun 2010) yang banyak makan korban. Saya jadi teringat obrolan saya dengan sahabat saya yang tinggal di Jogja pada April lalu.

Sisa jam erupsi merapi


Sahabat saya tersebut berkata, "Beberapa hari ini nggak enak cuacanya, Mbak. Gerah, sumuk, kayak panasnya gunung."

Saya sih menimpali, "Iya, Mas, Jember juga puanas biasanya, gampang keringetan."

"Orang sini (Jogja) sih nyebutnya panas gunung, Mbak."

Ternyata, beberapa beberapa minggu kemudian, terjadilah peristiwa letusan tersebut. Mungkin memang orang Jogja-nya sendiri sudah terasa, ya. Hawanya barangkali beda.


Sebuah kiriman dibagikan oleh Ajeng Veran (@ajengveran) pada


---

Setelah melalui bujukan kawan untuk ikut tour ini karena paket tour sudah dibayar oleh rombongan, jadilah saya ikut. Syukurlah, saya nggak jadi menyesal nggak ikut Merapi Lava Tour ini. Karena ya itu, serunya pakai banget!

Dengan Jeep yang dikendarai oleh Mas Huda, kami diajak touring yang sangat seru dengan melewati jalan lereng merapi yang bebatuan dan berguncang-guncang di atas jeep terbuka tersebut. Sebagai seorang driver jeep, Mas Huda juga menunjukkan tempat-tempat tertentu yang memiliki sejarah tersendiri, dalam arti lain, beliau  semacam tour guide bagi kami, yang penting kita juga aktif tanya (macam kuliah saja, ya, musti akif tanya?).

Ya, intinya begitu, kalau ingin perjalanan kita menjadi lebih kaya informasi dan pertemanan, baiknya kita bersikap ramah dan kekeluargaan pada penduduk lokal. 

MAKAM MASAL
Pertama, kita melewati makam penduduk lereng merapi yang meninggal karena letusan merapi 2010 saat itu. Kami tak turun dari jeep, hanya berhenti saja dan menengok ke arah kiri jalan di mana makam-makam tersebut berlokasi. Lalu Mas Huda membawa kami lanjut.

WELCOME TO THE LOST WORLD
Seperti memasuki kawasan dunia fantasi saja. Kami melewati stonehenge mini dan lost world castle. Kami tak mampir ke situ karena tidak sepaket dengan tour kami barangkali.

Welcome to the lost world


MUSEUM SISA HARTAKU
Sampai di tempat ini, kita disuguhkan dengan memori-memori yang tersisa dari peristiwa letusan merapi. Barang-barang rumah, motor, kursi, sapi yang tinggal tulang belulangnya, peralatan bertani, bahkan buku-buku/kitab yang terselamatkan dan diamankan di kotak kaca. Yang menyedihkan adalah saat memandang dinding-dinding yang penuh foto-foto terbingkai sedemikian rupa yang memperlihatkan ganasnya kondisi alam saat itu.

Bingkai-bingkai kenangan di museum

Dari pemberhentian di museum sisa-sisa ini, ada hikmah yang bisa kita ambil. Setelah bencana hebat, akan ada masanya kejayaan datang. Ya, tempat ini menjadi banyak didatangi wisatawan domestik maupun asing. Membawa berkah bagi kelompok-kelompok penyedia jeep dan tour Merapi.

Sisa-sisa peralatan rumah tangga

Sapi yang menjadi saksi

Setelah dari museum ini, kami lanjut ngejeep penuh gronjalan nan seru lagi menuju pemberhentian selanjutnya.


WISATA BATU ALIEN
Penamaan Wisata Batu Alien ini sebenarnya berasal dari kata "lian-e" (bahasa Jawa), kalau dalam bahasa Indonesia berarti "lain-nya". Di wisata ini memang ada batu yang mirip dengan wajah yang menampakkan mata hidung dan mulut bila dilihat dari sudut tertentu.

Batu alien

Seperti yang terlihat di gambar atas, batu di sisi kanan atas itulah yang dimaksud mirip wajah. Saat saya berada di sana, saya tak mendapati kemiripan batu tersebut dengan relif wajah meskipun pemandu menunjukkannya (dasar pintar!). Namun setelah pulang dan melihat-lihat foto, barulah saya paham. Hehe.. Jadi, batu itu harus dipandang dari sudut tertentu.

PETILASAN MBAH MARIDJAN

Mobil kenangan
Di Kawasan Kinahrejo ini kita diajak mengingat kembali sisa-sisa luar biasanya letusan Merapi. Tempat ini adalah tempat untuk mengenang khususnya sang juru kunci Mbah Maridjan. Sama seperti di museum Sisa Hartaku, beberapa perabot rumah tangga dimuseumkan, foto-foto kejadian dipajang untuk dikenang, bahkan ada motor dan mobil evakuasi yang saat itu berusaha menyelamatkan Mbah Maridjan. Bayangkan, mobil saja bisa hangus seperti itu, entah bagaimana panasnya kala itu.





MAIN AIR KALI KUNING
Wisata Lava Tour saya pikir dirancang sedemikian rupa untuk membuat penikmatnya merasakan keseruan yang tidak terlupakan. Terakhir, kita diajak 'menembus' air dengan trek berkelok dan bebatuan. Driver akan memberitahu untuk menyimpan gadget kita dalam tas, kemudian jeep melaju kencang menembus air.

Teriakan-teriakan penumpang menjadikan driver lebih semangat sepertinya. Entah kami sudah menikmati keseruan berapa putaran main air saat itu, yang jelas baju kita sebagian sudah basah kena air.  Seru dan memang bikin nagih. Yang sudah pernah coba pasti tahu bagaimana rasanya, ya kan? Hihihi...

Difotoin sama Mas Huda, driver kami

Lava Tour ini menjadi refleksi bahwa segalanya bisa porak-poranda, tapi juga akan membawa berkah jika manusia tetap berusaha dan mengupayakannya.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS. Alam Nasyroh: 5). Bahkan firman ini ditegaskan kembali mirip di ayat selanjutnya.

Kawan-kawan bagaimana, sudah pernah coba Lava Tour? Apa yang paling seru?