Sunday, October 09, 2016

Teluk Love, Sesimpel Itu

Jember punya teluk yang menarik yang berlokasi di wilayah selatan, tepatnya di deretan Pantai Payangan di ujung selatan. Sebuah teluk berbentuk hati, lambang cinta. Yup, Teluk Love!

Teluk Love nampak dari Bukit Suroyo


Teluk Love ini baru dipopulerkan tepatnya 2 bulan sebelum tahun baru 2015 menurut Bapak Mahrowi, salah satu keluarga pengelola wisata Teluk Love ini. Sampai saat ini masih terus dilakukan pembangunan dan perbaikan akses. Terakhir kali saya ke sana, bambu-bambu untuk pagar pengaman tangga naik ke bukit untuk melihat Teluk Love ini masih terus dibangun.

semangat ya, Pak! Para pekerja membawa bambu naik ke Bukit Suroyo

Wisata Teluk Love ini sudah dilengkapi dengan fasilitas mushola dan kamar mandi. Sementara karcis masuknya cukup Rp.5000,- saja. Sebelum naik ke Bukit Suroyo (Bukit guna memandang jelas Teluk Love), juga di sediakan tongkat gratis guna membantu mendaki bukit. Namun setelah selesai tetap harus dikembalikan.

tongkat gratis, begitu.


Wisata ini cukup ramai di hari libur nasional. Pengunjung juga banyak yang dari luar kota Jember. Saya kebetulan saat ke sana bertemu pengunjung dari Malang dan Probolinggo. Bahkan bisa membawa perlengkapan camping jika ingin bermalam di atas Bukit Suroyo sembari menikmati pemandangan sekitar termasuk Teluk Love ini. Namun pihak pengelola wisata tidak menyediakan peralatan camping. Saat saya bertanya kenapa tak menyediakan sekalian, jawabnya adalah efisiensi harga. Harga tenda misalnya, nanti takutnya tidak sebanding dengan harga sewa yang kita tidak tahu bisa jadi cepat sekali rusak dipakai pengunjung, nanti malah rugi.

Sekitar Teluk Love ini memang disayangkan agak kotor, banyak sampah bertebaran di bibir pantai sebelah utara. Sampah ini banyaknya dari aliran sungai yang mengarah ke laut Payangan ini. Semoga ke depannya masalah ini bisa teratasi termasuk juga pengunjung untuk tak membuang sampah sembarangan. Sayang sekali pemandangan yang harusnya bagus jadi nampak kotor.

Terkait dengan nama teluk ini, Teluk Love. Saya sempat kepikiran, kenapa dinamai Teluk Love, bukan Teluk Hati atau Teluk Cinta. Maksud saya, penggunaan bahasa pada "Teluk Love" ini kan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kenapa tidak satu bahasa saja begitu?

Saya sempat ngobrol agak lama dengan salah satu pengelola wisata Teluk Love ini, Bapak Mahrowi, yang saya sebutkan di atas tadi. Jadi, begini ceritanya...

Sebelum nama teluk ini melejit melalui media-media digital, sebenarnya sudah banyak yang mengunjungi wisata ini. Saat itu datanglah pengunjung dari Surabaya dengan keluarganya. Setelah mereka dari Bukit Suroyo dan kemudian turun, mereka menunjukkan foto teluk yang berbentuk bagus dengan menyebut 'bentuknya love', begitu saja. Iya, sesimpel itu. Akhirnya dinamailah teluk tersebut dengan Teluk Love. Dengan keunikan bentuknya tersebut maka dikembangkanlah wisata ini hingga seperti sekarang.

Itu adalah cerita singkat yang saya dengar langsung dari salah satu pengelola wisata Teluk Love di Jember ini. Barangkali juga saya salah mengingat cerita, maka jika dibutuhkan klarifikasi silakan berkunjung ke Teluk Love dan selamat bercakap dengan pengelola wisata di sana.

Minum es degan dulu sesaat usai menuruni bukit.

Sebelum menaiki Bukit Suroyo untuk melihat Teluk Love, bapak penjaga karcis saat itu mengarahkan saya untuk mendaki ke kanan dulu. Di tangga masuk wisata ini ada dua arah bisa ke kiri dan ke kanan. Yang ke kiri sebenarnya lebih dekat namun jalannya menanjak sementara yang ke ke kanan jalannya tidak terlalu menanjak, namun cukup jauh untuk mencapai pemandangan Teluk Love. Awalnya saya berpikir, "Ah, tadi langsung ke kiri sebenarnya lebih cepat." Namun saat menuruni bukit, saya merasa "Untung, lewat jalur kanan, jadi bisa mengitari bukit dan keluar lewat jalur berbeda." Kenapa kira-kira? Ini alasannya. Banyak hal yang bisa kita temui dan tak kalah indah dari Teluk Love itu sendiri.

Atau jika teman-teman pernah mampir ke sana, ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, boleh lah. Saya akan senang membacanya. Salam :)

Artikel Terkait

2 comments

Jadi pingin kemping di bukitnya sambil mandangin laut, kayanya seru ya mbak hehe

Iya, mungkin seru, tapi kalau malam entah di bayangan saya kenapa jadi menakutkan rasanya. Hihihi..

Silakan tinggalkan jejak di sini :)
EmoticonEmoticon